Pajak dalam Pandangan Hukum Islam

By | 19 Februari 2017
Pajak dalam Pandangan Hukum Islam

Dalam sebuah hadis shahih dijelaskan ada suatu masa nanti bahwa manusia tidak memperhatikan lagi darimana dia mendapatkan hartanya, mau dari harta haram mencuri merampok, korupsi, merampas harta orang lain, judi, riba tidak masalah bagi orang-orang ini. Karena yang penting dapat harga mereka sangat senang sekali.

Berikut ini petikan hadis ini:

“Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman saat manusia tidak peduli dari mana mereka mendapatkan harta, dari yang halalkah atau yang haram” [HR Bukhari kitab Al-Buyu : 7]

Diantara jenis harta seperti ini adalh diterapkannya pajak bagi kaum muslimin yang semestinya tidak boleh / haram hukumnya untuk diambil hartanya. Sebagaimana hadis nabi muhammad, yang menyebutkan bahwa sungguh sucinya hari ini, tanah ini lebih suci dari darah dan harta kaum muslimin. Nabi bersabda di kala hari iedul adha di masjidil haram. Dua hal yang suci ini kata nabi, tapi ada yang lebih suci lagi yaitu harta kamu muslim, tidak boleh dirampas secara paksa, darah kaum muslimin tdak boleh menetes secara tidak haq.

Pengambilan harta kepada kaum muslimin yang dipaksakan seperti pajak adalah salah satu bukti nyata akan perampasan harta syah umat islam. Ada beberapa dalil yang mendukung bahwa pajak tidak ada di dalam hukum islam diantaranya sbb:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil….”[An-Nisa : 29]

serta sebuah hadist yang berbunyi sbb:

“Tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya” [6]

Dan yang paling ngeri lagi adalah, adanya hadist yang jelas-jelas menyebut keharaman pajak bagi kaum muslimin, yaitu

“Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka” [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah : 7]

Wah tentu kita berhati-hati lagi. Semua pengurusan seperti cek npwp pribadi dan berbagai jensi pekerjaan di pajak tidak terkecuali, Bagi temen-temen yang bekerja di pajak. Ada beberapa nasehat sbb:
  1. Selalu usahakan untuk pindah kerja,
  2. jika ada tanggungan keluarga kewajiban, minimal usaha untuk pindah instansi/kerja tetap diikhtiarkan
  3. Mencari sampingan usaha sembari jalan, mudah2an kelak kemudian hari bisa menjadi pengganti pekerjaan sekarang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.